Pilkada Jawa Timur tinggal menunggu hitungan bulan lagi. Kerap di jalanan berbagai
Rakyat masihlah tetap dengan kesibukan sehari-harinya, dengan ‘nasib’nya yang bisa dibilang tidak mengenakkan. Sebut sajalah; antrian panjang minyak tanah yang meresahkan akibat nafsu konversi ke minyak gas. Lalu di kawasan Sidoarjo yang tertimpa derita panjang akibat kecerobohan plus keserakahan PT.Lapindo. Banjir Situbondo dan beberapa daerah lain yang membuat derita pula bagi rakyat.
Masing-masing daerah memiliki problem sendiri yang tentunya membawa himpitan bagi rakyat. Mungkin pemerintah daerah masih sibuk rapat ini rapat itu; soal perundangan, kebijakan, anggaran daerah, juga mungkin soal laptop bahkan mobil dinas. Sementara rakyat sudah terlanjur kehabisan energi dan daya hidup untuk menghadapi kesulitan kebutuhan hidup yang luar biasa.
Kembali pada problematika rakyat di Jawa Timur. Akankah yang terjadi pada Pilkada kali ini adalah terpilihnya Sang Pemimpin atau justru Sang Penguasa?
Kita harus memilih seorang pemimpin; dia memimpin kita menuju ke arah jalan menuju kehidupan yang mensejahterakan, menyenangkan untuk semua rakyat. Tentu dengan berbagai ujian dan rintangan yang dihadapi dengan penuh tanggung jawab sebagai sikap berjiwa besar. Watak sang pemimpin yang mengagumkan adalah; rela berkorban. Seumpama pemimpin rumah tangga; dia rela mengorbankan jiwa dan raganya, keringat dan darahnya untuk anak-anaknya dan keluarganya. Tidak mementingkan ambisi dan nafsu pribadinya
Sifat pemimpin yang tak kalah pentingnya adalah mampu menjadi teladan/memberi contoh yang baik bagi orang-orang yang dipimpinnya yakni rakyat. Bagaimana dia mampu membangun sendi-sendi kehidupan yang kerakyatan/bermanfaat bagi rakyat semua tanpa menumpuk kekayaan pribadi dengan korupsi. Sehingga menjadi panutan bagi rakyat dari generasi ke generasi.
Jelas berbeda jauh dengan sang penguasa, yang jelas dari artinya adalah menguasai. Bagaimana mungkin rakyat bisa makmur sejahtera bila semua sendi kehidupan rakyat dia kuasai. Semua kerja keras diperuntukan guna membangun kekuasaannya agar kokoh dan langgeng. Semua kritik rakyat dianggap tidak sopan, tak ada unggah-ungguh dan menghina kekuasaan. Sibuk setiap waktu mengadakan rapat-rapat untuk membuat sabdanya menjadi ‘Tuhan’ yang tidak boleh ditolak oleh rakyat.
Sekarang kita rakyat harus benar-benar jeli melihat mendengar hingga memutuskan pendapat nuraninya untuk memilih pada Pilkada nanti. Jangan terjebak janji manis kampanye, lantaran kesamaan suku atau agama, atau bahkan karena ‘sabda partai’. Ini agar nantinya rakyat Jawa Timur bisa menemukan sosok Pemimpin Jawa Timur dan bukan Penguasa Jawa Timur. Lihatlah monumen Gubenur Suryo di dekat Taman Apsari Surabaya, itulah sosok seorang pemimpin Jawa Timur, dia akan terus dikenang oleh rakyat.
David. Kris. S.Sos


No comments:
Post a Comment