04 April 2008

Tulisan Tamu: dari Syahrani 'sWeblog


Tentang Pakde Karwo

Bagi saya, sebenarnya yang menarik dari Surabaya bukan pisang ponti, bukan pula berdirinya mal-mal dan infrastruktur swasta yang lebih cepat berdiri dibanding dengan infrastruktur publik. Namun yang menarik adalah kata "Pakde".

Tiba2x saja beberapa bulan terakhir ini publik di Surabaya (khususnya) dan Jatim (umumnya) dibombardir oleh produk2x berbau Pakde. Contoh, kacang garing Pakde, campursari Pakde, beasiswa "Pakde peduli pendidikan", stiker2x Pakde "tertib lalu lintas" di angkutan umum dan lain sebagainya. Bahkan saya sudah menemui beberapa warung kopi yang sudah menggunakan spanduk atau merek "Warung Kopi Pakde".

Siapa, apa dan mengapa Pakde? Saya mencoba mengulas dari hasil beberapa obrolan dan pengamatan. Sekedar peringatan, kalau anda tidak menyukai politik atau marketing, jangan lanjutkan bacaaan ini.

Kalau tidak salah, awal mula kata Pakde adalah di kalangan wartawan. Ungkapan ini dipakai untuk menyebut nama Sekdaprov Jatim Dr. Soekarwo, SH, Mhum. Setelah dari wartawan, ungkapan ini berkembang luas dan Pak Karwo (panggilan akrab Soekarwo), membaca fenomena ini. Akhirnya dengan sigap, dibuatlah sebuah karikatur yang katanya "mirip" Soekarwo dengan nama Pakde (tentu ada tujuannya). Ujung-ujungnya pula dibuat sebuah "brand" (merek) bernama Pakde dengan karikatur tadi. Produknya sebagian saya sebutkan diatas.

Kalau kita merujuk pada situasi politik di Jatim, setidaknya ada 2 kandidat kuat calon Gubernur Jatim 2008-2013. Pertama adalah wagub Jatim Soenarjo, kedua adalah Seokarwo. Gubernur sekarang Imam Utomo tidak bisa maju lagi karena sudah 2 kali masa jabatan dan dialah gubernur Jatim pertama kali dengan 2 masa jabatan.

Analisa yang ada, Soenarjo lebih diuntungkan karena lebih dikenal di jajaran akar rumput. Selain posisinya sekarang sebagai wagub, dulu ia pernah menjabat sebagai Sekdaprov. Soekarwo, dirugikan karena tidak dikenal. Sehingga tugas utama Soekarwo adalah "dikenal masyarakat Jatim". Memang popularitas bukan esensi utama dalam meraih kemenangan, tetapi ingat ini adalah pilihan langsung rakyat sehingga "perkenalan" harus tetap dilakukan. Seokarwo yang saya kenal memang pintar, komunikatif dan birokrat sejati.

Kedua orang ini melakukan trik "kampanye" yang berbeda. Dari sumber yang terpercaya, 2 orang ini menggunakan tim yang dulu bekerja sama dibalik sukses Bambang DH - Arif Afandi meraih kursi walikota-wawali Surabaya. Kini satu tim tersebut pecah kongsi dalam Pilgub 2008 ini. Sebut saja tim A dan tim B. Menariknya, kedua tim menggunakan 2 strategi yang berbeda dengan disiplin ilmu yang berbeda.

Soenarjo, yang memakai tim A, memahami betul bahwa ini adalah ranah politik sehingga memilih tim A. Tim A dikomandoi oleh seorang dosen yang political analyst dari Surabaya sekaligus direktur sebuah LSM. Namun, hingga saat ini, "kampanye" belum terlihat kasat mata. Mungkin hanya sebatas "kunjungan" ke daerah.

Seokarwo, yang lebih "dirugikan", jauh lebih mementingkan "bagaimana caranya biar saya dikenal". Dia tahu betul bahwa ia butuh "jual diri". Caranya cukup inovatif dengan memilih tim B. Tim B adalah tim yang dihuni oleh pemasar atau tim marketing. Pak Karwo mengerti bahwa zaman telah berubah. Political marketing dibutuhkan, bukan hanya politiknya saja.

Dimana2x muncul lah "merek" Pakde. Muncul di TV, koran, dan produk2x menggunakan brand name "Pakde". Hasilnya, kini orang2x kampung mengerti apa itu Pakde. Di otak mereka sudah tertancap nama Pakde. Artinya sudah ada brand awareness tentang Pakde di Jatim.

Di sebuah radio terkemuka di Surabaya, iklan "kacang garing Pakde" sempat ditolak karena dianggap politis. Namun, tim B berpendapat "dimana politsnya?". Pakde adalah sebuah produk kacang garing dan tidak ada tulisan maupun klaim dari kacang garing pakde bahwa "Pakde adalah Soekarwo". Pada akhirnya, radio itu menerima iklan tersbut dan iklannya telah on air. Cukup cerdas memang.

Saat ini, orang2x mengetahui "Pakde is product". Nanti, ketika gaung Pilgub Jatim 2008 telah dibuka, tim B tentu akan terang-terangan membuat image dan positioning baru yaitu "Pakde is Soekarwo". Product Awareness telah ada, tinggal liking dan preference dari pemilih yang harus diperhitungkan oleh tim B.

Menarik untuk ditunggu. Apakah tim A yang menggunakan teori politik ataukah tim B yang menggunakan political marketing yang akan memenangkan Pilgub Jatim?

Yang pasti, andaikata Pakde Karwo kalah, dia telah mengantongi satu 'perusahaan' baru, brand name "Pakde" dengan awareness ttg produk yang cukup tinggi di masyarakat. Salut untuk Pakde Karwo.

30 March 2008

Kliping: Gak Gelem Dukung diarani Mbalelo...



Mbalelo, Kader PDIP Dukung Karwo

Harian Bangsa; 30 Maret 2008

SURABAYA - Dukungan kader PDIP untuk Sutjipto, dipastikan tidak utuh. Ini setelah sejumlah kader PDIP mendirikan Posko Pemenangan Pak De Karwo (P4K). "Kita awali dari sini, kemudian akan menyebar ke seluruh Jawa Timur," kata Wagimin, pendiri posko, yang juga fungsionaris Badan Pemenangan Pemilu DPC PDIP Surabaya, kemarin malam.

Posko P4K yang berlokasi di Jl Gentengkali disebut Posko Merah Putih. Acara peresmian posko, didahului selamatan dengan memotong tumpeng. Hadir di acara, Ketua P4K Jatim Suhadak, Katua P4K Surabaya Rudi Rosadi, dan Ketua Aliansi Wong Cilik Jatim Nugroho.
Rudi menjelaskan, pendirian posko ini untuk menjaga nilai-nilai konsistensi kaum nasionalis. "Kami hanya berpedoman pada hasil konferda, yakni Pak De mendapat suara mayoritas mutlak," kata Rudi.

Seperti diketahui, Pak De alias Soekarwo saat itu didukung 22 DPC PDIP di seluruh. Jatim. Adapun Sutjipto hanya didukung suara minoritas. "Bukankah Pak De bukan kader PDIP? Dan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri sudah merekomendasikan Sutjipto dan Ridwan Hisjam?" tanya HARIAN BANGSA.

Rudi menuturkan, sebelumnya PDIP sudah membuka peluang pendaftar cagub nonkader. "Jika ingin kembali mendapatkan kepercayaan dari rakyat, ada baiknya PDIP menjaga konsistensi dan menjunjung tinggi demokrasi," kata Rudi

Manuver sejumlah kader PDIP ini, sedikit banyak akan mengancam soliditas partai berlambang banteng gemuk bermoncong putih itu untuk memenangkan Soetjipto. Apalagi, pendiri posko ini terdiri dari kader-kader lama seperti Suhadak (PDIP Bubutan), Purwito (Jambangan), dan Rudi Rosadi (Wonocolo). Bahkan, Rudi pernah dipercaya Bambang DH sebagai koordinator pemenangan saat pilkada Surabaya lalu.

Sebelum PDIP menjatuhkan pilihannya ke Soetjipto, Suhadak dipercaya untuk melobi DPC-DPC yang tak mendukung Soekarwo. "Saya sudah melakukan pendekatan agar teman-teman yang tidak mendukung Pak De agar bisa dirangkul," kata Suhadak. (fya)

Kliping: Liddle Nyambangi Pakde


Liddle Dukung Soekarwo?

Harian Bangsa, 17 Maret 2008

Pengamat Indonesia asal Ohio State University Prof Dr William Liddle datang ke Setretariat Karsa Jl Comal 17, Sabtu malam, sekitar pukul 22.00 WIB.

Liddle yang juga konsultan United States Agency Internasional Development (USAID) untuk Indonesia, didampingi Pakar Otonomi Daerah dari UGM Prof Dr Pratikno, dan Development Programme Spesialist Democrazy & Government USAID Indonesia Zullia Saida.

Ditemui Soekarwo usai menghadiri pengajian umum bersama Ustad Jefry di Kecamatan Tandes Surabaya, William Liddle mengutarakan keinginan menjajaki Program Pemberdayaan Good Governance di Jatim, 5 tahun ke depan. Program itu sebagai bentuk perhatian USAID kepada provinsi dengan jumlah penduduk sekitar 37 juta ini.

Soekarwo, cagub yang diusung PAN-PD berpasangan dengan Gus Ipul mengaku, sangat senang dengan tawaran yang disampaikan pihak USAID. Sebab, program yang akan dilangsungkan selama lima tahun ke depan itu, sesuai visi dan misi sebagai calon gubernur.

Pertemuan dengan William Liddle, dimanfaatkan Soekarwo yang didampingi Prof Dr Hotman Siahaan untuk memaparkan visi misi, andaikan terpilih sebagai gubernur.

Seperti yang diketahui, ketokohan William Liddle sebagai pakar ilmu politik di tanah air tidak diragukan. Indonesianist senior ini telah dikenal sebagai guru besar di Ohio States University yang berhasil 'melahirkan' beberapa tokoh pakar ilmu politik nasional seperti (alm) Prof Affan Ghaffar, (alm) Prof Dr Riswanda Imawan, Prof Ramlan Surbakti, Dr Andi Malarangeng dan Dr Rizal Malarangeng. ''Kita berharap ini menjadi awal yang baik bagi masa depan Jawa Timur,'' demikian, Soekarwo berharap. (nis)


USAID tawari Pakde Karwo Program Good Governance

Radar, 19 Maret 2008

Dunia Internasional telah memperhitungkan kemungkinan Soekarwo (Pakde Karwo) untuk memenangkan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim, Juli nanti.

Buktinya, United States Agency Internasional Development (USAID) untuk Indonesia menawarkan Program Pemberdayaan Good Governance di Jatim dalam 5 tahun ke depan.

Calon gubernur dari PD ini menjelaskan, tiga hari lalu memang dirinya mendapat tawaran dari USAID mengenai program itu. Tawaran itu, lanjut Pakde Karwo, karena Jatim mempunyai penduduk yang cukup besar dan telah menerapkan pelayanan publik dengan baik.

Lalu mengapa tawaran ini diberikan kepadanya yang juga sebagai salah seorang cagub, bukan kepada gubernur saat ini? Pakde Karwo menjawab tidak tahu.

"Memang USAID pernah datang pada kami beberapa hari lalu. Tapi saya tidak tahu apa alasan mereka menawarkan ini pada saya. Yang jelas, saya sangat menghargai penawaran mereka," paparnya, Senin (17/3).

Pakde Karwo mengaku sangat senang dengan tawaran yang disampaikan USAID. Sebab, program yang akan dilangsungkan selama lima tahun ke depan itu telah sesuai dengan visi dan misinya sebagai calon gubernur.

"Saya ini menjadi bagian yang sama dengan semangat kita sejak awal. Kami berharap ini menjadi awal yang baik bagi masa depan Jawa Timur," tukas pria asal Madiun ini.

Konsultan USAID untuk Indonesia yang juga guru besar ilmu politik di Ohio State University, Prof Dr Willian Liddle, menemui Pakde Karwo di Sekretariat Bersama (Sekber) KarSa di Jl Comal 17 Surabaya. Liddle datang didampingi Pakar Otonomi Daerah dari UGM Prof Dr Pratikno, dan Development Programme Spesialist Democrazy & Government USAID Indonesia, Zullia Saida.

Dalam kesempatan itu , William Liddle juga mendengarkan visi misi Pakde Karwo-Gus Ipul sebagai Bakal Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim untuk lima tahun mendatang. -eda/ted